Viral Ketua Osis Gorontalo Dan Guru [best] Jun 2026

The viral case involving a teacher and the Head of OSIS (Ketua OSIS) at a vocational high school (MAN 1) in Gorontalo Regency became a national sensation in late September 2024. The case centers on an inappropriate video recording that exposed a long-term grooming relationship between an older teacher and a high-achieving student.

Kasus ini melibatkan seorang oknum guru Bahasa Indonesia berinisial DH (57 tahun) dan seorang siswi (16 tahun) yang menjabat sebagai Ketua OSIS di sebuah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kabupaten Gorontalo. Siswi tersebut dikenal sebagai anak yatim piatu yang cerdas dan sarat prestasi di sekolahnya. Deteksi Awal oleh Pihak Sekolah

This public link is valid for 7 days and shares a thread, including any personal information you added. This link or copies made by others cannot be deleted. If you share with third parties, their policies apply. Can’t copy the link right now. Try again later.

Kepala MAN 1 Gorontalo, Rommy Bau, mengungkapkan bahwa dirinya telah dua kali memanggil dan memeriksa oknum guru DH. Pemeriksaan pertama dilakukan pada 25 September 2023, dan pemeriksaan kedua pada 29 Agustus 2024. Pemeriksaan kedua digelar setelah pihak sekolah menerima laporan dari istri DH sendiri yang curiga dengan perselingkuhan suaminya.

Paman dari siswi tersebut membuat laporan ke Polres Gorontalo setelah mengetahui tindakan asusila yang dilakukan oleh oknum guru tersebut. Viral Ketua Osis Gorontalo Dan Guru

The swift public backlash and the viral nature of the video forced immediate official responses:

The viral video of the Ketua Osis Gorontalo and his teacher has captured the hearts of millions, inspiring a nation and sparking a conversation about the importance of education and community service. Rizky and Ibu Sri's story serves as a powerful reminder of the impact that individuals can have on their communities and the values that are essential for creating positive change.

Kapolres Gorontalo, AKBP Deddy Herman, mengungkapkan bahwa video tersebut direkam secara sengaja oleh seorang siswi yang merupakan teman baik dari PPT, meskipun mereka bersekolah di lokasi yang berbeda. Sang perekam nekat menyusupkan kamera tersembunyi di dalam kamar kos tempat kejadian berlangsung. Dari potongan video yang beredar, tampak seorang siswi berseragam pramuka dengan hati-hati meletakkan sebuah ponsel (HP) di dalam ruangan, memastikan posisinya tersembunyi namun tepat mengarah ke tempat tidur.

Sorotan tajam juga tertuju pada kondisi psikologis korban. Pasca video syurnya viral dan aibnya tersebar luas, PPT mengalami gangguan psikologis berat berupa trauma dan syok yang mendalam. Korbannya sempat mengalami gangguan psikologis yang membutuhkan pendampingan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Gorontalo serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). The viral case involving a teacher and the

Masyarakat diimbau untuk berhenti membagikan atau mencari link video asusila tersebut demi menjaga masa depan dan kesehatan mental korban yang masih di bawah umur.

Setelah video tersebut menjadi konsumsi publik dan membuat malu institusi pendidikan, barulah tindakan tegas diambil. Pihak MAN 1 Gorontalo langsung menonaktifkan oknum guru DH dari segala aktivitas belajar mengajar dan melaporkannya ke pihak berwenang.

menjadi salah satu perhatian publik terbesar di Indonesia. Kasus tragis ini mengungkap tabir eksploitasi anak berkedok hubungan asmara di lingkungan institusi pendidikan.

Ironisnya, lokasi yang seharusnya menjadi pusat kegiatan kepemimpinan dan organisasi siswa ini justru dijadikan tempat untuk melakukan tindakan kejahatan seksual, menambah panjang daftar bukti gagalnya sistem pengawasan di lingkungan sekolah. Siswi tersebut dikenal sebagai anak yatim piatu yang

On one hand, some people argue that the chairman of the student council was justified in speaking out against the teacher's behavior. They claim that the teacher was being unfair or abusive, and that the student leader was standing up for their rights and the rights of their fellow students. This perspective emphasizes the importance of student empowerment and the need for students to have a voice in their own education.

: The teacher is identified as DH (57) , and the student is a 12th-grade student who served as the Ketua OSIS .

The controversy erupted after a five-minute video documenting an intimate encounter between the two individuals began circulating on social media platforms like X (formerly Twitter), TikTok, and WhatsApp. Recording Origin: